KATA PENGANTAR
Dengan menyebut Nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta petunjuk-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan ilmiah tentang "Pengaruh Lilitan Selotip pada Api dalam Air" ini dengan baik.
Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam terkait dengan materi yang dipelajari yaitu Metode Ilmiah.
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di tempat-tempat yang masih terdapat sebuah kolam/danau yang disekitarnya masih minim lampu penerangan seperti di desa-desa sering kali membuat kita takut akan hal-hal yang tidak dinginkan. Contohnya ketika kita sedang berjalan di malam hari dan melewati sebuah kolam/danau kita takut akan tercebur ke dalam kolam/danau tersebut karena jalan yang kita pijak itu tidak terlihat jelas ditambah lagi dengan suasana kolam/danau yang gelap.
Oleh karena itu saya memilih permasalahan ini sebagai point penting dalam percobaan metode ilmiah yang akan saya lakukan. Saya ingin membuat sebuah alternatif penerangan untuk kolam/danau di malam hari, walaupun hanya bersifat sementara.
Selain itu, seperti yang kita tahu, bahwa dalam film kartun yang berjudul Spongebob Squarepants kita seringkali kita melihat ada api yang menyala di lautan dan kadang bertanya-tanya bagaimana mungkin api bisa ada di lautan. Dan karena itu, saya akan membuktikan bahwa api bisa tetap menyala ketika didalam air sama seperti yang ada dalam film kartun Spongebob Squarepants.
1.2. Tujuan Penelitian
-Untuk membuat alternatif sementara sebagai penerangan kolam di malam hari
-Untuk membuktikan bahwa api dapat menyala ketika dalam air
1.3. Rumusan Masalah
1. Adakah pengaruh dari selotip yang dililitkan pada kembang api yang menyala, ketika dimasukkan kedalam air?Akankah tetap menyala?
2. Mengapa kembang api itu tetap menyala ketika dimasukkan kedalam air?
3. Adakah perbedaan yang terlihat pada kembang api yang dililit selotip berwarna bening dengan kembang api yang dililit selotip berwarna hitam?
4. Apa yang terjadi pada air tersebut? Akankah ada perubahan warna pada air tersebut?
1.4. Variabel
- Variabel Bebas :
- Variabel Terikat :
- Variabel Kontrol :
1.5. Hipotesis
1. Tentu saja ada, karena kembang api itu tetap menyala.
2. Karena Kembang api tersebut telah dililit oleh selotip sehingga permukaan kembang apinnya tetap kering walaupun dimasukkan kedalam air.
3. Ada, yaitu kembang api yang dililit oleh selotip berwarna hitam lebih lama durasi menyalanya dibandingkan dengan kembang api yang dililit selotip berwarna bening.
4. Air tersebut tidak berubah warnanya, tetapi hanya mengeluarkan buih-buih yang menunjukan air itu mendidih
BAB 2 CARA KERJA
2.1 Alat dan Bahan
a. Alat :
- Gunting
- Gelas
- Selotip ukuran besar warna bening (Packaging Tape)
- Selotip ukuran besar warna hitam (Cloth Tape)
- Korek/Bensin
b. Bahan :
- Kembang api (Petasan Sparkling)
- Air
2.2 Langkah Kerja
siapkan alat dan bahan
Potong masing-masing selotip ± 20cm (untuk satu lilitan)
Pasang pada kembang api
Pasang dengan pelan-pelan dan rata, jangan ada selotip yang menggembung
Ratakan selotipnya agar menempel merata dengan sempurna
Lakukan kembali langkah 2-5 untuk kembang api yang memakai dua lilitan selotip
siapkan gelas dan isi dengan air
Kemudian nyalakan kembang api tersebut dan masukkan kedalam air
Lihat dan perhatikan hasilnya
Catatlah durasi yang diperlukan untuk setiap kembang api itu hingga padam
Catatan:
bisa juga kembang api tersebut dinyalakan secara bersamaan dan kemudian lihat hasilnya
BAB 3 DATA DAN ANALISIS DATA
3.1 Tabel dan Hasil Penelitian
3.2 Analisis Data
1. Kembang api yang dililit selotip bening (1 lilitan)
Ketika dimasukkan kedalam air, kembang api tersebut langsung padam karena lilitan yang digunakan terlalu tipis sehingga ada celah untuk air itu masuk dan memadamkan api nya.
Namun tidak terjadi apapun pada pada air yang digunakan.
2. Kembang api yang dililit selotip hitam (1 lilitan)
Ketika dimasukkan kedalam air, kembang api itu menyala selama dua detik sehingga air itu mendidih dan mengeluarkan buih selama kembang api itu menyala. Selain itu, waktu yang digunakan untuk menyalakan kembang api itu membutuhkan waktu lebih lama dari pada kembang api yang pertama karena bahan selotipnya lebih tebal dari pada selotip berwarna bening. Air nya pun selain menjadi mendidih juga terdapat kotoran hitam yang berasal dari selotip yang terbakar.
3. Kembang api yang dililit selotip bening sebanyak 2 lilitan
Ketika dimasukkan kedalam air, kembang api itu menyala selama 5 detik dan membuat mendidih air yang digunakan. Sama seperti kembang api yang dililit oleh selotip hitam, untuk membuat nyala kembang api itu membutuhkan waktu yang cukup lama walaupun tidak selama kembang api yang dililit selotip hitam. Warna air nya tetap sama namun terdapat bekas selotip yang terbakar pada air yang digunakan.
4. Kembang api yang dililit selotip hitam sebanyak 2 lilitan
Ketika dimasukkan kedalam air, kembang api itu menyala hingga 10 detik dan air nya pun ikut mendidih selama kembang api itu menyala. Untuk menyalakan kembang api nya dibutuhkan waktu dua kali lebih lama dari pada kembang api yang hanya dililit oleh satu lilitan. kotoran yang terdapat pada air pun lebih banyak karena jumlah selotip yang terbakar pun lebih banyak.
BAB 4 PENUTUP
Kesimpulan:
Setelah melakukan eksperimen dan melihat hasilnya, dapat disimpulkan bahwa selotip berpengaruh terhadap kembang api yang menyala ketika dimasukkan kedalam air. Semakin banyak lilitan semakin lama pula kembang api itu menyala karena celah untuk air itu masuk dan memadamkan api nya semakin kecil. Dan juga, semakin tebal lilitan semakin lama pula waktu yang digunakan untuk menyalakan kembang apinya. Selain itu warna pada selotip juga mempengaruhi air yang digunakan.
Asal Mula Gunung Merapi
Konon, Pulau Jawa memiliki tanah yang miring dan tidak rata. Untuk itu, para dewa di khayangan ingin menyeimbangkan Pulau Jawa dengan meletakkan sebuah gunung di tengah Pulau Jawa. Akhirnya, diputuskan untuk memindahkan Gunung Jamurdipa yang letaknya di Pantai Selatan ke daerah sekitar perbatasan Kabupaten Sleman, Boyolali, dan Klaten. Di tempat akan diletakkannya Gunung Jamurdipa, tinggallah dua orang empu sakti pembuat keris bernama Empu Rama dan Empu Pamadi. Dalam membuat keris, mereka tidak pernah menempa besi menggunakan palu atau landasan logam, tetapi langsung dengan tangan dan paha mereka sebagai alasnya. Kemudian, para dewa mengutus Batara Narada dan Dewa Penyarikan untuk menemui kedua empu tersebut dan meminta mereka untuk pindah dari sana agar tidak tertindih oleh gunung yang baru. Kedua utusan khayangan itu turun ke bumi. Mereka menyampaikan pesan para dewa kepada kedua empu tersebut. "Terima kasih atas kedatangan kalian, tetapi mohon maaf kami tidak bisa pindah dari sini, karena jika kami berpindah-pindah itu tidak baik bagi kualitas keris buatan kami," jawab Empu Rama. Batara Narada dan Dewa Penyarikan mencoba kembali menasihati kedua empu, "Namun, jika hal ini tidak kalian dilakukan, Pulau Jawa akan semakin miring:" Kedua empu sakti ini tetap pada pendirian mereka dan menolak untuk pindah. Hal ini membuat Batara Narada dan Dewa Penyarikan marah. Terjadilah pertengkaran yang dilanjutkan dengan pertarungan di antara keempatnya. Kesaktian Empu Rama dan Empu Pamadi lebih tinggi, Batara Narada dan Dewa Penyarikan dapat terpukul mundur. Dewa-dewa di khayangan murka ketika Batara Narada dan Dewa Penyarikan pulang dengan tangan hampa. "Kedua empu itu memang keras kepala! Kalau begitu, kita tidak usah memperhitungkan mereka. Segera tiupkan Gunung Jamurdipa sekarang juga!" perintah Batara Guru. Dewa Bayu lalu meniup Gunung Jamurdipa, sehingga terempas dan jatuh tepat di atas perapian kedua empu tersebut. Empu Rama da Empu Pamadi tewas tertindih gunung tersebut. Perapian tempat kedua empu tersebut kemudian berubah menjadi kawah. Akhirnya, gunung tersebut disebut dengan Gunung Merapi, karena letaknya persis di lokasi perapian kedua empu pembuat keris itu.
Riska Lestari
Minggu, 25 Februari 2018
Aplikasi Cerita Rakyat
Asal Usul Danau Singkarak
Di sebuah desa yang terletak di Sumatra Barat, hiduplah Pak Buyung, istri, dan seorang anak yang bernama Indra. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir laut. Sehari-hari, Pak Buyung dan istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setiap pagi, mereka mencari manau, rotan, dan damar, kemudian menjualnya di pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut untuk menangkap ikan dengan menggunakan jala, pancing, atau bubu. Ketika sudah berusia 10 tahun, Indra mulai diajak membantu orangtuanya ke hutan dan laut. Ia anak yang rajin dan tidak pernah mengeluh. Ayah dan ibunya sangat bangga kepadanya. Hanya satu hal yang membuat mereka resah, yaitu nafsu makan Indra yang sangat besar. Sekali makan, ia biasa menghabiskan setengah bakul nasi dan beberapa piring lauk. Suatu saat, tibalah musim paceklik. Hasil hutan dan hasil laut semakin sulit didapat. Keluarga ini menyantap ubi dan talas sebagai pengganti nasi. Ternyata, musim paceklik kali ini berlangsung lama, sehingga mereka semakin sulit mendapatkan bahan makanan. Mereka harus menahan lapar setiap harinya. Lama-kelamaan, keadaan ini membuat mereka menjadi lebih peduli pada diri sendiri daripada kepada anaknya. Suatu hari, Indra mengeluh perutnya sangat lapar. Sudah berhari-hari mereka hanya makan ubi bakar. Ia menangis dan mengadu kepada ayahnya. Ayah, aku lapar sekali. Bisakah ayah beri aku makanan? rengeknya. Anak malas! Jika kamu lapar, pergi sana mencari manakan sendiri di hutan atau di laut! ujar ayahnya. Sang ibu mencoba membela Indra, karena Indra masih kecil. Namun, ayahnya tetap bersikeras agar Indra mencari makan sendiri. Berkat bujukan ibunya, Indra pun berangkat mencari makan menuju hutan di Bukit Junjung Sirih. Sebelum berangkat, Indra terlebih dulu memberi makan ayam piaraannya yang bernama Taduang. Ayam tersebut sangat setia kepada Indra. Setiap kali Indra datang atau pulang ke rumah, ia selalu berkokok menyambutnya. Dari pagi sampai siang hari, Indra pergi mencari makanan ke hutan dan ke laut. Namun sampai siang hari, tak sedikit pun didapatinya makanan untuk mengisi perutnya yang lapar. Maka, ia pun kembali pulang. Keesokan harinya, sang ayah kembali menyuruhnya pergi mencari makanan. Sementara ayah dan ibunya hanya tidur-tidur di rumah. Mereka seperti sudah pasrah terhadap keadaan. Sampai sebulan keadaan ini berlangsung dan Indra merasa tubuhnya sangat lelah. Suatu hari, ketika Indra sedang mencari makan ke laut, ibunya berhasil mendapatkan pensi (sejenis kerang yang ukurannya kecil), hasil tangkapannya bersama beberapa tetangga. Apa itu, Bu? tanya suaminya. Ibu Indra yang sedang mencuci bahan makanan mengatakan bahwa pensi sangat enak jika digulai. Ia lalu memasak gulai pensi, aromanya membuat perut sang ayah semakin lapar. Wah, sedap sekali aromanya, Bu. Apakah ini cukup untuk kita bertiga? Ibu kan tahu Indra makannya banyak sekali. Rasanya tidak cukup, kata sang ayah. Lalu bagaimana, Pak? Begini saja, kita makan saja berdua selagi Indra pergi ke laut. Jika ia kembali, kita sembunyikan lauk ini. Si Taduang pasti akan berkokok jika Indra datang. Akhirnya, Pak Buyung dan istrinya menyantap gulai pensi tersebut dengan sangat lahap. Namun belum selesai mereka makan, si Taduang berkokok. Suami istri ini segera merapikan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke dalam rumah, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai. Maaf Ayah, aku tidak mendapatkan ikan sama sekali, kata Indra. Jika kau tidak mendapatkan ikan, apa yang bisa kau makan? kata Pak Buyung. Aku lelah sekali, Ayah. Bolehkan aku makan? Baiklah kau boleh makan, tetapi kau harus mencuci ijuk ini terlebih dahulu hingga menjadi putih, ibunya sambil menyodorkan seikat ijuk yang baru saya dibawa Pak Buyung dari hutan. Indra pergi ke sungai untuk mencuci ijuk. Sekian lama ia mencuci, tetapi warna ijuk itu tidak bisa berubah. Kasihan Indra, ia tidak tahu bahwa ijuk tersebut memang berwarna hitam dan tidak akan bisa dijadikan putih meskipun dicuci. Ia tidak tahu bahwa ayah dan ibunya sedang meneruskan menyantap makanan dengan lahapnya di rumah. Merasa tubuhnya sudah sangat lelah, Indra lalu kembali ke rumah. Sampai di rumah, ia pelan-pelan masuk ke dapur. Dengan sangat terkejut, ia melihat ayah dan ibunya sedang tertidur kekenyangan di dapur dengan sisa-sisa piring makan berserakan di sekitarnya. Tidak ada lagi makan yang tersisa. Indra sangat sedih dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak menyangka orangtuanya telah membohonginya. Dengan air mata menetes di pipinya, ia berjalan keluar dan menangkap ayam kesayanganya si Taduang. Mereka lalu duduk di sebuah batu di samping gubuk tempat tinggal Indra. Ayah dan ibu sudah membohongiku, Taduang. Aku sangat sedih. Lebih baik aku pergi, karena ternyata mereka tidak menyayangiku, isak Indra. Taduang berkokok sebagai tanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Ayam itu lalu mengepakkan sayapnya seolah-olah memberi tanda kepada Indra. Indra berpegangan pada kaki Taduang. Lalu, ayam itu terbang perlahan dengan Indra yang bergantung pada kakinya. Ternyata, batu tempat mereka duduk itu terbawa di kaki Indra. Semakin ke atas batu tersebut semakin membesar dan menjadi berat. Taduang tidak lagi kuat terbang membawa Indra dan batu besar itu, Akhirnya, Indra menendang batu tersebut hingga jatuh ke bumi dan menghantam sebuah bukit yang letaknya di dekat lautan. Hempasan batu tersebut membuat lubang yang memanjang, Dengan cepat air langsung mengaliri lubang tersebut sehingga membentuk aliran sungai. Menurut cerita, aliran tersebut adalah asal-usul terbentuknya Sungai Ombilin yang mengalir sampai Riau. Kemudian, air laut menjadi menyusut membentuk sebuah danau yang kemudian dinamakan Danau Singkarak. Sementara itu, Indra dan ayam kesayangannya tidak diketahui keberadaannya.
Pesan moral dari Cerita Danau Singkarak adalah sifat suka mementingkan diri sendiri akan merugikan diri sendiri dan juga melukai hati orang lain
Riska Lestari
Minggu, 25 Februari 2018
Aplikasi Cerita Rakyat
Asal Usul Pantai Karang Nini
Aki Ambu dan Nini Arga Piara adalah sepasang suami istri yang sudah tua renta. Mereka tidak dikarunia anak, tetapi hidup saling menyayangi dan setia satu sama lain. Setiap hari menjelang malam, Aki Ambu pergi ke laut untuk memancing ikan dan baru pulang pada pagi harinya. Suatu ketika, Aki Ambu terlihat kurang sehat, sehingga Nini Arga Piara melarang Aki Ambu untuk melaut. Aki tidak apa-apa, Nini. Biarkan Aki pergi mencari ikan. Persediaan makan kita sudah mau habis. Kalau Aki tidak melaut, kita tidak punya makanan besok ujar Aki Ambu. Meskipun telah dilarang oleh istrinya, Aki Ambu tetap ingin pergi. Akhirnya, Nini Arga Piara melepaskan Aki pergi. Hati-hati ya Ki, kalau rasanya tidak kuat lebih baik pulang saja. pesannya kepada Aki Ambu. Aki Ambu pun berangkat ke laut dan mulai memancing ikan. Namun, sampai tengah malam tak satu pun ikan ia dapat. Sementara itu, Nini Arga gelisah menunggu suaminya di rumah. Sampai pagi ketika ayam berkokok, Aki Ambu belum juga pulang. Akhirnya, Nini pergi ke pantai mencoba mencari suaminya. Usahanya sia-sia. la tak menemukan Aki Ambu. Hari berikutnya, Nini Arga dibantu warga mencari Aki Ambu. Namun, tetap saja Aki Ambu tidak ditemukan. Lalu, Nini Arga duduk di pantai sambil menangis. Ya Tuhan, hamba mohon pertemukanlah hamba dengan suami hamba, tangisnya. Tuhan mengabulkan permintaannya. Tiba-tiba, di hadapannya dari dalam laut muncullah sebentuk batu karang mengambang di hadapannya. Bersamaan dengan itu terdengarlah suara gaib. Nini Arga, batu yang mengambang itu adalah penjelmaan suamimu. Jadi, jangan mencari suamimu lagi. Nini Arga menangis sejadi-jadinya. la tidak menyangka akan berpisah dengan suaminya seperti ini. Sambil terus menangis, ia berdoa kepada Tuhan. Ya Tuhan, hamba sangat mencintai suami hamba. Biarkanlah kami bersama selamanya. Ubahlah hamba menjadi seperti suami hamba. Tiba-tiba langit mendung dan petir menyambar. Tubuh Nini Arga pun berubah menjadi batu karang yang berhadapan dengan batu terapung perwujudan Aki Ambu. Oleh masyarakat sekitar batu karang tersebut dinamakan Karang Nini dan batu yang letaknya terapung perwujudan Aki Ambu dinamakan Bale Kambang, karena letaknya di atas perairan.
Pesan moral adalah kebaikan yang kalian sebarkan kepada orang lain akan berbuah kebaikan untukmu dimasa yang akan datang.
Riska Lestari
Minggu, 25 Februari 2018
Aplikasi Cerita Rakyat
Batu Belah Batu Betangkup
Awal mula kisahnya adalah di tanah Gayo, Aceh – hiduplah sebuah keluarga petani yang sangat miskin. Ladang yang mereka punyai pun hanya sepetak kecil saja sehingga hasil ladang mereka tidak mampu untuk menyambung hidup selama semusim, sedangkan ternak mereka pun hanya dua ekor kambing yang kurus dan sakit-sakitan. Oleh karena itu, untuk menyambung hidup keluarganya, petani itu menjala ikan di sungai Krueng Peusangan atau memasang jerat burung di hutan. Apabila ada burung yang berhasil terjerat dalam perangkapnya, ia akan membawa burung itu untuk dijual ke kota. Suatu ketika, terjadilah musim kemarau yang amat dahsyat. Sungai-sungai banyak yang menjadi kering, sedangkan tanam-tanaman meranggas gersang. Begitu pula tanaman yang ada di ladang petani itu. Akibatnya, ladang itu tidak memberikan hasil sedikit pun. Petani ini mempunyai dua orang anak. Yang sulung berumur delapan tahun bernama Sulung, sedangkan adiknya Bungsu baru berumur satu tahun. Ibu mereka kadang-kadang membantu mencari nafkah dengan membuat periuk dari tanah liat. Sebagai seorang anak, si Sulung ini bukan main nakalnya. Ia selalu merengek minta uang, padahal ia tahu orang tuanya tidak pernah mempunyai uang lebih. Apabila ia disuruh untuk menjaga adiknya, ia akan sibuk bermain sendiri tanpa peduli apa yang dikerjakan adiknya. Akibatnya, adiknya pernah nyaris tenggelam di sebuah sungai. Pada suatu hari, si Sulung diminta ayahnya untuk pergi mengembalakan kambing ke padang rumput. Agar kambing itu makan banyak dan terlihat gemuk sehingga orang mau membelinya agak mahal. Besok, ayahnya akan menjualnya ke pasar karena mereka sudah tidak memiliki uang. Akan tetapi, Sulung malas menggembalakan kambingnya ke padang rumput yang jauh letaknya.Untuk apa aku pergi jauh-jauh, lebih baik disini saja sehingga aku bisa tidur di bawah pohon ini, kata si Sulung. Ia lalu tidur di bawah pohon. Ketika si Sulung bangun, hari telah menjelang sore. Tetapi kambing yang digembalakannya sudah tidak ada. Saat ayahnya menanyakan kambing itu kepadanya, dia mendustai ayahnya. Dia berkata bahwa kambing itu hanyut di sungai. Petani itu memarahi si Sulung dan bersedih, bagaimana dia membeli beras besok. Akhirnya, petani itu memutuskan untuk berangkat ke hutan menengok perangkap. Di dalam hutan, bukan main senangnya petani itu karena melihat seekor anak babi hutan terjerat dalam jebakannya.Untung ada anak babi hutan ini. Kalau aku jual bias untuk membeli beras dan bisa untuk makan selama sepekan, ujar petani itu dengan gembira sambl melepas jerat yang mengikat kaki anak babi hutan itu. Anak babi itu menjerit-jerit, namun petani itu segera mendekapnya untuk dibawa pulang. Tiba-tiba, semak belukar di depan petani itu terkuak. Dua bayangan hitam muncul menyerbu petani itu dengan langkah berat dan dengusan penuh kemarahan. Belum sempat berbuat sesuatu, petani itu telah terkapar di tanah dengan tubuh penuh luka. Ternyata kedua induk babi itu amat marah karena anak mereka ditangkap. Petani itu berusaha bangkit sambil mencabut parangnya. Ia berusaha melawan induk babi yang sedang murka itu. Namun, sungguh malang petani itu. Ketika ia mengayunkan parangnya ke tubuh babi hutan itu, parangnya yang telah aus itu patah menjadi dua. Babi hutan yang terluka itu semakin marah. Petani itu lari tunggang langgang dikejar babi hutan. Ketika ia meloncati sebuah sungai kecil, ia terpeleset dan jatuh sehingga kepalanya terantuk batu. Tewaslah petani itu tanpa diketahui anak istrinya. Sementara itu – di rumah isri petani itu sedang memarahi si Sulung dengan hati yang sedih karena si Sulung telah membuang segenggam beras terakhir yang mereka punyai ke dalam sumur. Ia tidak pernah membayangkan bahwa anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari dan dirawat dengan penuh cinta kasih itu, kini menjadi anak yang nakal dan selalu membuat susah orang tua. Karena segenggam beras yang mereka miliki telah dibuang si Sulung ke dalam sumur maka istri petani itu berniat menjual periuk tanah liatnya ke pasar. Sulung, pergilah ke belakang dan ambillah periuk tanah liat yang sudah ibu keringkan itu. Ibu akan menjualnya ke pasar. Jagalah adikmu karena ayahmu belum pulang, ucapnya. Akan tetapi, bukan main nakalnya si Sulung ini. Dia bukannya menuruti perintahnya ibunya malah ia menggerutu.Buat apa aku mengambil periuk itu. Kalau ibu pergi, aku harus menjaga si Bungsu dan aku tidak dapat pergi bermain. Lebih baik aku pecahkan saja periuk ini, kata si Sulung. Lalu, dibantingnya kedua periuk tanah liat yang menjadi harapan terakhir ibunya untuk membeli beras. Kedua periuk itu pun hancur berantakan di tanah. Bukan main terkejut dan kecewanya ibu si Sulung ketika mendengar suara periuk dibanting.Aduuuuuh…..Sulung! Tidak tahukah kamu bahwa kita semua butuh makan. Mengapa periuk itu kamu pecahkan juga, padahal periuk itu adalah harta kita yang tersisa, ujar ibu si Sulung dengan mata penuh air mata. Namun si Sulung benar-benar tidak tahu diri, ia tidak mau makan pisang. Ia ingin makan nasi dengan lauk gulai ikan. Sungguh sedih ibu si Sulung mendengar permintaan anaknya itu.Pokoknya aku tidak mau makan pisang! Aku bukan bayi lagi, mengapa harus makan pisang, teriak si Sulung marah sambil membanting piringnya ke tanah. Ketika si Sulung sedang marah, datang seorang tetangga mereka yang mengabarkan bahwa mereka menemukan ayah si Sulung yang tewas di tepi sungai. Alangkah sedih dan berdukanya ibu si Sulung mendengar kabar buruk itu. Dipeluknya si Sulung sambil menangis, lalu berkata Aduh, Sulung, ayahmu telah meninggal dunia. Entah bagaimana nasib kita nanti, ratap ibu si Sulung. Tetapi si Sulung tidak tampak sedih sedikit pun mendengar berita itu. Bagi si Sulung, ia merasa tidak ada lagi yang memerintahkannya untuk melakukan hal-hal yang tidak disenanginya. Sulung, ibu merasa tidak sanggup lagi hidup di dunia ini. Hati ibu sedih sekali apabila memikirkan kamu. Asuhlah adikmu dengan baik. Ibu akan menuju ke Batu Belah. Ibu akan menyusul ayahmu, ucap ibu si Sulung. Ibu si Sulung lalu menuju ke sebuah batu besar yang menonjol, yang disebut orang Batu Belah. Sesampainya di sana, ibu si Sulung pun bernyanyi,Batu belah batu bertangkup.Hatiku alangkah merana.Batu belah batu bertangkup.Bawalah aku serta. Sesaat kemudian, bertiuplah angin kencang dan batu besar itu pun terbelah. Setelah ibu si Sulung masuk ke dalamnya, batu besar itu merapat kembali. Melihat kejadian itu, timbul penyesalan di hati si Sulung. Ia menangis keras dan memanggil ibunya sampai berjanji tidak akan nakal lagi, namun penyesalan itu datangnya sudah terlambat. Ibunya telah menghilang ditelan Batu Belah.
Pesan moral dari Legenda di atas ialah, jangan pernah meremehkan nasehat orang tua, jika kamu berbuat salah segerahlah meminta maaf.
Riska Lestari
Minggu, 25 Februari 2018
Aplikasi Cerita Rakyat
Legenda Rawa Pening
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak yang sakti. Kesaktiannya ini membuat seorang menyihir jahat iri. Penyihir jahat menyihir anak itu, sehingga tubuhnya penuh luka dengan bau yang sangat menyengat. Luka-luka baru akan muncul begitu luka lama mulai kering. Keadaannya kondisi tubuhnya itu, tidak ada seorang pun yang mau berhubungan dengannya. Jangankan bertegur sapa, berdekatan saja orang tidak mau. Mereka takut tertular. Suatu hari, anak ini bermimpi ada seorang perempuan tua yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Ia pun berkelana mencari perempuan tua dalam mimpinya tersebut. Di setiap kampung yang ia datangi, ia selalu ditolak oleh penduduk. Mereka merasa jijik dan mengusir anak ini. Akhirnya, sampailah ia di sebuah kampung yang sebagian besar penduduknya adalah orang-orang yang sombong. Tidak banyak orang yang miskin di desa itu. Mereka akan diusir atau dibuat tidak nyaman kalau tinggal di sana. Hal ini mengusik hati anak kecil ini. Pada sebuah pesta yang diselenggarakan di kampung itu, anak kecil ini berhasil masuk. Namun, orang-orang segera mengusirnya dan mencaci-makinya. Ia langsung diseret keluar. Pada saat terseret, ia berpesan kepada orang-orang itu supaya lebih memerhatikan orang tak punya. Mendengar kata-kata anak itu, beberapa orang makin marah, bahkan meludahinya sambil berkata, Dasar anak setan, anak buruk rupa! Anak itu merasa terluka dengan perlakuan orang-orang tersebut. Lalu, ia menancapkan sebuah lidi di tanah don berkata, Tak ada satu pun yang bisa mencabut lidi ini dari tanah, hanya aku yang bisa melakukannya! Orang-orang meragukan ucapan anak tersebut. Mereka pun mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, tak seorangpun dapat melakukannya. Dalam beberapa hari, lidi itu tak bisa tercabut. Suatu hari, secara diam-diam, anak itu datang dan mencabut lidi itu. Tanpa sepengetahuannya, ada seorang warga yang melihatnya dan melaporkannya kepada warga yang lain. Dari tempat lidi itu dicabut, mengalirlah mata air. Semakin lama, air itu semakin deras. Air menenggelamkan daerah tersebut, sehingga menjadi sebuah telaga yang kini bernama Telaga Rawa Pening. Tidak ada yang selamat dari musibah itu kecuali seorang perempuan tua yang berbaik hati memberinya tempat tinggal dan merawatnya. Secara ajaib penyakit kulit anak itu sembuh. Namun, penyihir jahat yang telah menyihir si anak itu tidak terima dengan kesembuhan itu. Kemudian, ia menyihir anak itu menjadi seekor ular besar dengan sebuah kalung genta di lehernya. Konon, ular ini sering keluar dari sarangnya pada tengah malam. Setiap kali bergerak, dentingan kalung di lehernya selalu berbunyi klentang-klenting. Bunyi inilah yang kemudian membuatnya dinamakan Baru Klinting. Kemunculan ular itu diyakinin masyarakat sebagai tando keberuntungan bagi nelayan nelayan yang tidak mendapat ikan. Kini, Telaga Rama Pening adalah objek wisata yang sangat populer di Jawa Tengah. Tempat ini terletak di Desa Bukit Cinta, Kabupaten Ambarawa. Pesan moral dari Cerita Rakyat Rawa Pening adalah hargai orang lain dan jangan saling membenci. Jangan pernah hanya menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Apa yang terlihat menarik bisa saja buruk untuk kita begitu juga sebaliknya, apa yang kita tidak suka bisa saja bermanfaat untuk kita.
Riska Lestari
Minggu, 25 Februari 2018
Aplikasi Cerita Rakyat
